Denpasar - Bali, pertengahan 90an.
Saya baru saja lulus SMP. Antara tahun '94 - '95. Dengan nilai yang sangat tidak memuaskan. NEM (Nilai Ebtanas Murni ) saya total jendral cuma 33,24 (*bisa inget lagi hasil ngubek - ngubek berkas - berkas lama saya ) dengan kombinasi angka enam, lima, dan empat untuk enam mata pelajaran yang di ujiankan. Bodoh ? Aah..saya menganggap kurang beruntung saja :)
Intinya, saya terancam tidak akan diterima masuk sekolah negeri. Waktu itu masuk sekolah negeri memakai parameter NEM. NEM kepala empat sudah dikatakan amanlah. NEM kepala tiga asal komanya besar lumayan aman, NEM kepala dua berlebihan kalau berharap bisa masuk sekolah negeri. Tapi semua itu bukan syarat mutlak. Kalau bokap nyokap kamu duitnya hambur - hamburan. Kamu bisa melenggang dengan pasti masuk sekolah negeri favorit sekalipun. Toh, beberapa sekolah negeri nggak saklek menetapkan peraturan baku untuk tidak menerima murid berdasarkan NEM yang standar sekolah tersebut. Asalkan ya itu tadi, bokap nyokap kamu sanggup bayar berapa untuk bisa masukin kamu ke sekolah mereka ? Istilahnya waktu itu " NOMBOK " (*Kayak lagunya IWA K..." Donk nombok donk nombok donk...)
Tapi saya masih berharap. Barangkali dari pilihan - pilihan sekolah negeri dengan parameter NEM tidak terlalu tinggi, saya masih bisa keterima lah. Mengingat sekolah negeri biayanya bisa lebih murah dibanding swasta.
Bertepatan dengan liburan panjang anak sekolah waktu itu. Saya sempet bilang sama bapak untuk membatalkan liburan ke Jogja karna saya mau fokus nyari sekolahan. (* kalo liburan panjang kami biasa ke Jogja mengunjungi keluarga bapak ) Tapi apa mau dikata, tiket bus sudah terbeli. Alhasil, saya ikut berangkat ke Jogja dengan keluarga dengan hati yang gundah gulana harap - harap cemas. Tapi saya sudah titip pesen dengan Eva teman saya untuk keep kontak kirim surat kilat kalau bisa secepat flashgordon untuk mengabari kemungkinan baik dan buruknya dengan pertaruhan NEM kita untuk bisa diterima di sekolah negeri. Kebetulan saya dan dia senasib punya nilai pas - pasan. Sedikit catatan ya, jaman segitu yang namanya alat komunikasi belum secanggih sekarang. Kalo mau interlokal nyari wartel terdekat aja jaraknya bisa 2 km. Mahalll lagi. Alternatif lainnya yang terjangkau ya surat kilat.
Dan benar saja, baru seminggu kita di Jogja. Di suatu sore ,surat kilat Eva dateng menghampiri alamat rumah bude saya. Isinya yang paling mengguncang jiwa saya adalah : " KITA NGGAK DITERIMA DI SMA NEGERI MANAPUN. NEM KITA NGGAK CUKUP. AKU TERPAKSA DAFTAR DI SMA PGRI. DARIPADA NGGAK DAPET SEKOLAH. " Eva juga menyebutkan berapa NEM terkecil yang diterima di sekolah negeri yang menjadi pilihan kami. Maaf kalo soal yang satu itu saya lupa angka - angkanya.
Eva memilih masuk sekolah PGRI ?? !! Oh, My Goodness. Tak terbayangkan sungguh.
Sekolah yang letaknya di belakang gedung SMP kami, sungguh bukan pilihan sekolah favorit. Bagaimana tidak. Sekolah itu terletak di pojokan, diantara perkampungan penduduk. Ibarat tipe perumahan, sekolahan PGRI itu adalah rumah RS7 (Rumah Sangat Sederhana Sekali Sampai Selonjoran Saja Susah ). Apalagi setiap pelajaran olahraga dimana kami harus lari keliling kompleks sekolahan, kami pasti melintasi sekolahan itu juga. Dimana banyak diantara siswanya dikala jam pelajaran malah memilih nongkrong di warung - warung kecil yang ada di jalan kampung itu. Entah sekedar ngobrol ngalur ngidul atau merokok sambil bergerombol. Sungguh bukan citra yang baik bagi sebuah sekolahan yang membiarkan anak didiknya berkeliaran di luar sekolah disaat seharusnya mereka khusuk mendengarkan guru membagi ilmunya. Mungkin karna kami dari sekolah negeri, yang terbiasa dengan kedisiplinan. Jadi melihat pemandangan yang menurut kami 'ganjil' maka nyinyirlah mulut - mulut ABG kami untuk tidak mengomentari
" Iiih...amit - amit, deh. Nggak bakalan mau sekolah di tempat kayak gitu ".
Tapi ketika cibiran itu berbalik menjadi sebuah 'tulah' beracun bagi kami. Inikah karma ? Tidak terbayangkan. Sekolah yang dulunya saya caci maki dengan seribu juta topan badainya Kapten Haddock di komik Tintin, harus menjadi sekolah untuk saya ? Tidaaak...
Sontak saya menangis tersedu - sedu, dan menyalahkan bapak yang tetap memilih berangkat liburan ke Jogja daripada memenuhi keinginan saya untuk nyari sekolah. Kelakuan saya kontan membuat seisi rumah Bude panik. Liburan di Jogja yang harusnya masih seminggu lagi, dipercepat. Bapakpun segera memesan tiket untuk bisa segera pulang ke Denpasar. Begitu sampai di Denpasar, dalam kondisi letih sehari semalam diguncang bus patas Jogja - Denpasar, saya langsung pergi ke rumah Eva untuk bertanya mengenai nasib saya. Yang saya takutkan adalah kalo saya tidak dapat sekolah karena daftar ulang yang mepet sekali. Bahkan saya ingat omongan bude sebelum melepas kami pergi pulang ke Denpasar." Kalau nggak dapat sekolah, telphon bude secepatnya. Kamu sekolah aja di Jogja. Disini kan pilihan sekolahnya lebih banyak." Yach, kalo itu adalah opsi terakhirnya apa boleh buat. Yang saya sangsikan adalah : Apakah saya bisa terpisah dengan bapak dan ibu ? Karena saya memang anak manja.
Untunglah doa anak manja kayak saya didengar Tuhan. Karna begitu sampai di rumah Eva, saya sangat sangat berterima kasih pada Ayahnya.
" Tenaaang, kamu sudah Oom daftarin masuk sekolah PGRI sama Eva. Jadi jangan takut nggak dapet sekolah. "
Gokil ! walaupun harus masuk ke sekolah yang menjadi antipati saya.Jujur saya pengen aja ngejerit seneng. Horeeee...dapet sekolah. Salut. Ayah si Eva berinisiatif untuk mendaftarkan saya. Dimana saya dan keluarga (*yang dibuat panik oleh saya) nggak terpikirkan untuk meminta tolong di daftarkan dulu. Saya berlari pulang dengan riang gembira (*seperti Bobo dan keluarganya ) untuk ngasih kabar kalo saya bisa sekolah dan nggak jadi ngerepotin bude untuk sekolah di Jogja. Sekaligus nodong bapak untuk ganti duit ayahnyanya Eva yang nalangi uang pendaftaran sekolah saya. Mau tau berapa duit untuk masuk ke sekolah itu ? 125 ribu rupiah. Saya masih inget.
Dibalik kegembiraan saya dapet sekolahan.Masih terselip sedikit rasa gengsi menjadi siswi sekolah swasta yang kacangan itu.(*Dasar bocah nggak tau diuntung)